BIKERS BROTHERHOOD MC SEBAGAI GENERASI KEDUA PENERUS MISI KEBANGKITAN NASIONAL

on Senin, 30 Maret 2009


Sejak munculnya kesadaran untuk bangkit di tahun 1908 yang secara eksplisit menandakan bahwa sebelumnya negara dan bangsa ini sudah jatuh di hadapan dunia. Waktu berjalan dengan segala sejarahnya hingga kini memasuki tahun 2008, dan atau secara matematis 100 tahun itu di bumi Indonesia telah lahir dua generasi yang secara pasti harus melanjutkan misi “kebangkitan bangsa” tersebut.

Apa yang terjadi? Kita bangsa Indonesia digenerasi kedua tampaknya mulai kehabisan daya dan hilang semangat, bahkan hilang orientasi terhadap tugas membangkitkan bangsa dan negara ini dari kejatuhannya di masa lalu. Tanpa menunggu bangsa Indonesia yang sedang terseok-seok, masyarakat dunia sudah berobah hingga munculnya pola hidup individualis yang tidak peduli kepada lainnya selain diri sendiri dengan urusan gaya-bergayanya. Lebih celaka lagi hal tersebut sudah merasuk ke negeri ini, dari kota hingga desa, dari Sabang sampai Merauke. Berarti secara strategis bangsa dan negara Indonesia sudah pecah hingga tingkat individu. Jika sudah demikian jangan harap Ibu Pertiwi tercinta ini dapat bangkit kembali dan Indonesia perlu waktu 400 tahun lagi untuk dapat melahirkan generasi beradab yang sadar dalam berbangsa dan bernegara.

Akibat salah ajar dan salah didik yang berujung kepada porak-porandanya pola hidup masyarakat, maka boro-boro berpikir tentang cara berbangsa dan bernegara yang muncul justru ‘pola hidup maling’ yang bermain kucing-kucingan dengan hukum serta berlomba-lomba memecahkan rekor sebagai maling yang tidak dapat disentuh oleh hukum verbal dan non-verbal. Cara paling klasik tentu saja dilakukan dengan berlindung dibalik segala atribut sosial; baik itu partai, lembaga pemerintah, ormas, agama, serta berbagai tameng sosial lainnya untuk menyelamatkan diri masing-masing.

Jelas saat ini kita sudah kalah oleh kedaulatan bangsa asing, dari mulai cara hidup hingga cara berpikir. Negeri kita ibarat sapi perah yang hidup terpenjara, ibarat harta karun yang sengaja dijadikan tempat sampah. Siapa yang bertanggung-jawab untuk semua kejadian di negara ini? Apa yang harus kita berikan kepada generasi mendatang atas hak waris mereka untuk hidup di negerinya sendiri? Dari sejarah, seni, budaya hingga teknologi bangsa kita sangat tergantung kepada segala sesuatu yang disampaikan oleh bangsa Barat yang sesungguhnya tidak tahu apa-apa tentang kehidupan masa lalu jaman kejayaan bangsa Swargantara yang kemudian menjadi Dwipantara dan kelak menjadi Nusantara lalu kini kita mengenalinya dengan sebutan bangsa Indonesia.

Apa yang dimaksud dengan peringatan hari Kebangkitan Bangsa dan Negara (Nasional)? Itu artinya; Indonesia harus kembali manjadi pusat orientasi dunia, kembali menjadi pusat peradaban manusia, kembali menjadi negara dan bangsa yang berdaulat tidak tergantung kepada negara lain dan menjadikan mereka kembali tergantung kepada negara kita. Maka, Indonesia tidak perlu takut kepada segala ancaman luar negeri, sebab bahan kehidupan apa yang tidak ada di negara ini? Semua sudah tersedia dan terserak disetiap sudut Ibu Pertiwi. Jepang telah membuktikannya melalui Restorasi Meiji, setelah menutup diri dalam waktu 5 tahun mereka mampu bangkit kembali menjadi bangsa terhormat. Kita harus kembali menjadi bangsa kelas satu dan utama di mata segala bangsa di dunia.

Indonesia harus lebih mengutamakan keselamatan rakyatnya ketimbang sekedar membangun citra diri dimata dunia. Indonesia harus lebih mengutamakan kemakmuran rakyatnya secara adil dan merata ketimbang sibuk menutupi citranya sebagai surga para maling (koruptor). Indonesia harus lebih menjaga dan mempertahankan harta karun planet bumi ketimbang ‘kenyamanan’ hidup kita di hari ini. Indonesia harus menjadi surga bagi seluruh keturunan kita di masa yang akan datang.

Misi kebangkitan bangsa harus dilakukan secara estafet dari generasi kegenerasi dan tidak boleh terputus sedikitpun hingga kelak negeri ini kembali berdiri tegak dan kokoh. Untuk hal itu dunia pendidikanlah yang harus mengambil peran penting melalui berbagai cara, baik yang bersifat teoretik maupun praktek. Caranya, bedakan pola pendidikan di negara kita dengan negara lain dan sesuaikan dengan kebutuhan (situasi dan kondisi) negara. Tidak perlu meniru dan mempergunakan pola yang diterapkan oleh bangsa lain (apalagi dunia Barat). Pepatah para sepuh mengatakan bahwa “lain padang lain ilalang”, artinya setiap bangsa harus berdaulat atas dirinya sendiri lalu “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Kenapa harus takut dan tunduk oleh bangsa lain? Negara kita adalah bumi tertua dan tersubur di dunia yang mampu menghidupi 1000 generasi tanpa terputus. Maka patut kita sadari bahwa ancaman dari negara lain itu sesungguhnya hanya demi menjaga kepentingan mereka di negeri ini.

Saat ini juga bangsa Indonesia harus berani berkata; “Ini negara aku dan sama sekali bukan negara kamu, seluruh harta-karun ini milik bangsa aku dan bukan untuk kepentingan rakyatmu !” ungkapan rasa gemas itu sudah dilakukan oleh Bikers Brotherhood dengan istilah “Motor Aing Kumaha Aing”.

Tugas membangkitkan sang ‘ibu’ dan menjaga warisan kekayaan yang harus diperjuangkan serta dipertahankan itu seolah hampir hilang dari kesadaran kita semua, mengapa demikian? Sebab terlalu banyak pola berbangsa dan bernegara yang tidak sesuai (tidak cocok) bagi bangsa Indonesia dalam kaitan “membangun bangsa agar menemukan jati dirinya kembali”. Jaman boleh berobah tapi tugas dan kewajiban kita sebagai bangsa pejuang dan kesatria tidak pernah ada hentinya.

Seluruh anggota keluarga Bikers Brotherhood MC menyadari benar bahwa dirinya bukan dermawan atau hartawan, apalagi ilmuwan. Tapi seluruh anggota keluarga Bikers Brotherhood adalah kaum bangsawan, mereka adalah para pecinta negeri yang bangga atas kebangsaannya. Patut di pahami bahwa kini gelar kebangsawanan bukan lagi milik para keturunan raja, sebab kerajaan sudah runtuh ‘tergulingkan’ oleh re-publik. Jadi siapapun mereka yang mencintai bangsa dan negara ini berhak disebut sebagai “bangsawan atau negarawan”.

Konon sudah banyak orang pintar di Ibu Pertiwi; ratusan profesor, ribuan doktor dan jutaan sarjana. Kemanakah mereka? Apakah mereka juga turut sibuk menggadaikan dan menjual bangsa serta negaranya? Bangunkan kesadaran mereka untuk tidak terjebak dalam dunia kecilnya yang sebatas kampus, kantor ataupun pabrik. Gerakan kecerdasan mereka untuk ikut bergabung dan berjuang bersama Bikers Brotherhood dalam membangun Ibu Pertiwi, tanah air kehidupan seluruh bangsa Indonesia.

Bikers Brotherhood MC bernaung di bawah panji Sumpah Pemuda yang bertujuan untuk mempererat persatuan dan kesatuan melalui rasa persaudaraan. Untuk hal itu kami menyadari benar bahwa yang kami lakukan hanyalah sebuah impian kecil yang baru dapat terwujud apabila seluruh rakyat Indonesia menyadari arti dan makna persaudaraan.
Bagi kami tidak perlu jauh untuk belajar tentang kondisi negara dan bangsa saat ini, secara ilustratif Bikers Brotherhood MC merupakan
Indonesia kecil yang mengungkapkan tentang berbagai situasi dan kualitasnya. Mengapa bisa demikian? Karena Bikers Brotherhood MC adalah salah satu atom di negara ini yang turut mengalir bersama denyut nadi kehidupan Ibu Pertiwi. Kami menyadari benar bahwa bahasa tubuh kami teramat buruk, tapi apa boleh buat karena tinggal itu yang kami miliki. Che Guevara berjuang dengan mempergunakan bahasa Kuba, Tzun-Tsu mempergunakan bahasa Cina, Musashi mempergunakan bahasa Jepang, Mahatma Gandhi mempergunakan bahasa India. Lalu bahasa apa lagi yang harus digunakan di negara ini sedang Soekarno sudah mengatakannya.

Sedikit niat dan cita-cita dari keluarga besar Bikers Brotherhood MC: “Mari bersama-sama membangun persaudaraan seperti yang telah diajarkan oleh para leluhur kita, silih asah, silih asih, silih asuh, silih wangi. Sebab, itulah benteng pertahanan terakhir di Ibu Pertiwi ini dan dari sana pula kita akan mulai bergerak bersama membangun bangsa hingga menemukan kembali jati dirinya.